Sabtu, 07 Maret 2009

BAGAIMANA MEMILIH OBAT KANKER YANG TEPAT ?

Tanya :
Dokter, saya wanita, 40 tahun, 2 tahun yang lalu didiagnosis kanker payudara oleh dokter masih stadium satu dan harus dioperasi. Waktu itu saya takut, dan memilih minum obat alternatif sampai sekarang , selama 2 tahun. Saat itu benjolan masih seukuran telur puyuh. Sekarang benjolan tambah besar menjadi sebesar bola tennis dan ada borok diatas benjolan tersebut dan di ketiak saya juga terasa ada benjolan. Saya jadi takut dok, harus bagaimana saya ini ? Apakah ada obat alternatif selain operasi untuk kanker ? Terimakasih . (Ny. Neni, Pontianak)

Jawab :
Banyak penderita kanker yang berusaha mencari obat alternatif . Dalam pemikiran mereka, obat alternatif untuk kanker adalah obat anti kanker selain operasi, radioterapi dan kemoterapi. Mereka takut untuk menjalani pengobatan yang akan dilakukan yang sudah dianjurkan dokter yang menanganinya karena takut efek samping yang akan terjadi serta biaya yang dianggap mahal serta berbagai alasan lain.
Obat anti kanker yang mereka yakini akan menyembuhkan penyakit kanker yang dideritanya kebanyakan adalah obat-obat yang berasal dari tumbuhan baik yang diproses secara sendiri, maupun yang sudah dijual dalam bentuk jadi berupa kapsul, bubuk ataupun cairan dalam botol. Obat-obat tersebut mereka beli baik dari toko obat / apotik atau dari perorangan atau pesan langsung .
Mereka mengkonsumsi obat-obatan tersebut dan sangat yakin penyakit kankernya akan sembuh antara lain karena adanya masukan dari para kerabat, teman dekat, tetangga atau juga dari berita mulut ke mulut, dari iklan obat tersebut atau dari sumber lainnya. Sementara pengobatan utamanya yang dianjurkan dokter ditinggalkan.
Zaman sekarang adalah era tehnologi dan informasi yang makin maju. Banyak media cetak maupun elektronik, juga akses internet, marketing yang demikian gencar yang semuanya memberikan informasi tentang khasiat suatu obat.
Informasi ini sesungguhnya baik, namun harus dicermati secara mendalam , yang manakah diantaranya yang benar-benar dapat digunakan dan sudah terbukti khasiatnya dalam penyembuhan kanker.
Melalui Uji Klinik
Begitu banyak jenis obat anti kanker, yang masing-masing obat memiliki khasiat untuk mengobati jenis kanker tertentu , bukan untuk semua jenis kanker. Sampai saat inipun pengobatan untuk kanker umumnya adalah terapi kombinasi atau gabungan dari beberapa jenis obat, bukan hanya satu jenis obat saja.
Untuk sampai dapat digunakan sebagai obat antikanker, suatu obat atau kombinasi beberapa obat tentunya melalui tahap penelitian mulai dari ditemukan senyawa baru , penelitian pada hewan , kemudian percobaan klinis pada manusia.
Suatu senyawa yang baru ditemukan pada penelitian di laboratorium , apakah dari bahan alami ataupun sintesis, terlebih dahulu diuji dengan serangkaian uji farmakologik pada uji praklinik pada hewan percobaan. Bila ditemukan suatu aktivitas farmakologik yang mungkin bermanfaat, maka senyawa yang lolos penyaringan ini akan diteliti lebih lanjut.
Sebelum calon obat baru ini dapat dicobakan pada manusia, dibutuhkan waktu beberapa tahun untuk meneliti sifat farmakodinamik, farmakokinetik dan efek toksiknya pada hewan uji coba. Farmakokinetik antara lain menilai nasib obat dalam tubuh seperti absorbsi (penyerapannya), distribusi, metabolisme (pengolahannya), dan ekskresinya (pengeluarannya dari tubuh); sedangkan farmakodinamik mempelajari efek obat terhadap fisiologi dan biokimia organ tubuh serta mekanisme kerjanya.
Walaupun pada tahap ini obat tersebut memberikan data yang berharga, ramalan tepat mengenai efeknya pada manusia belum dapat dibuat karena spesies yang berbeda ( hewan berbeda dengan manusia) ,tentu berbeda pula dalam menerima suatu obat, baik efektifitasnya, toksisitasnya dan lainnya.
Satu-satunya jalan untuk memastikan efek obat pada manusia, baik efek terapi maupun non terapinya, adalah dengan memberikan obat tersebut pada manusia dalam uji klinik.
Empat tahap uji klinik
Pada dasarnya uji klinik bertujuan memastikan efektivitas, keamanan dan gambaran efek samping yang sering timbul pada manusia akibat pemberian suatu obat. Uji klinik ini terdiri dari uji fase I sampai IV.
Suatu pengobatan yang menggunakan obat baru harus melalui uji klinik sebelum diijinkan pemakaiannya kepada penderita.
Pada uji klinik, suatu obat baru akan dinilai, apakah memang benar-benar bermanfaat , bagaimana cara kerja pengobatan yang baru ini, apakah obat ini memberikan hasil yang lebih baik dari obat standar yang sudah ada dan sudah digunakan dan hasilnya sudah terukur, apa efek sampingnya, apakah efek samping yang terjadi lebih hebat dibanding obat yang sudah ada sebelumnya, apakah keuntungannya lebih tinggi dibanding efek samping yang ditimbulkan , pada penyakit kanker jenis mana obat ini yang paling tepat.
Pada uji klinik fase I , diteliti keamanan obat baru ini. Fase ini merupakan pengujian suatu obat baru untuk pertama kalinya pada manusia, biasanya dilakukan pada sukarelawan . Diteliti besarnya dosis tunggal yang dapat diterima artinya yang tidak menimbulkan efek samping serius. Juga diteliti sifat farmakokinetik dan farmakodinamik obat tersebut. Dilakukan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya dan dikerjakan di tempat yang sarananya cukup lengkap, dengan subjek berkisar 20-50 orang.
Fase II uji klinik, obat dicobakan pada penderita kanker yang kelak akan diobati dengan calon obat ini. Protokol penelitian dibuat oleh tim ahli dibidangnya, dinilai terlebih dahulu oleh panitia kode etik, dan protokol harus diikuti secara ketat, seleksi penderita harus cermat dan setiap penderita harus dimonitor dengan intensif.
Pada fase ini dilihat efek farmakologik, penderita diberikan dosis tertinggi yang tidak menimbulkan efek samping hebat dan dilihat efek obat pada kanker. Efek samping pada penderita juga diteliti. Jumlah subjek pada fase ini antara 100-200 penderita.
Uji klinik fase III , untuk memastikan bahwa suatu obat baru benar-benar berkhasiat dan untuk mengetahui kedudukannya dibandingkan dengan obat standart yang sudah ada. Dilakukan pada sejumlah besar penderita yang tidak terseleksi ketat sehingga menyerupai keadaan sebenarnya dalam penggunaan sehari-hari di masyarakat. Pada fase ini dibandingkan antara obat yang baru dengan obat standart yang sudah ada, juga dibandingkan obat yang sama tetapi dengan dosis berbeda.
Bila hasil uji klinik fase tiga menunjukkan bahwa obat baru ini cukup aman dan efektif, maka obat dapat diijinkan untuk dipasarkan. Jumlah penderita yang diikutsertakan pada fase ini paling sedikit 500 orang.
Penelitian uji klinik fase IV, merupakan survei epidemiologik menyangkut efek samping maupun efektivitas obat.
Merupakan pengamatan terhadap obat yang telah dipasarkan. Dapat juga berupa uji klinik jangka panjang dalam skala besar untuk menentukan efek obat terhadap mortalitas (angka kematian) dan morbiditas (angka kesakitan) sehingga datanya menentukan status obat yang bersangkutan dalam pengobatan.
Pada saat ini, waktu yang diperlukan untuk pengembangan suatu obat baru, mulai dari sintesis bahan kimianya sampai dipasarkan, dapat mencapai waktu 10 tahun atau lebih dengan biaya yang sangat mahal.
Harus teliti dan waspada
Untuk menggunakan suatu obat, dokter tentunya sudah mempelajarinya terlebih dahulu secara mendalam mengenai obat tersebut, apalagi obat anti kanker yang efek sampingnya begitu banyak dan begitu hebat .
Obat anti kanker secara Internasional sudah baku dan sudah diteliti berdasarkan kaidah yang sudah disebutkan diatas. Hasilnya juga selalu dikemukakan pada forum pertemuan ilmiah Internasional, dimuat dalam journal kedokteran dan juga textbook kedokteran. Semua pengobatan tersebut tingkat keberhasilannya juga sudah diteliti dan terus diteliti.
Sebagian besar obat-obatan tersebut adalah dari bahan alami, termasuk tumbuhan. Sebagai contoh obat anti kanker payudara yang harganya cukup mahal dan saat ini khasiatnya cukup baik dan digunakan sebagai obat kemoterapi kanker payudara , ternyata berasal dari daun tumbuhan sejenis cemara yang disebut “yew tree’ yang sudah diteliti, dikembangkan dan diproduksi di Korea Selatan.
Mungkin diantara bahan tumbuhan yang ada di negara kita juga ada yang berkhasiat anti kanker, namun penelitian yang mendalam seperti yang sudah disebutkan diatas , belum sepenuhnya diterapkan . Sehingga untuk para dokter, obat-obat tumbuhan yang ada saat ini belum dapat dinyatakan dan digunakan sebagai obat anti kanker.
Sayangnya masyarakat saat ini banyak yang begitu cepat percaya pada suatu obat jenis dan merk tertentu akan menyembuhkan kanker serta berbagai penyakit lainnya sekaligus seperti darah tinggi, diabetes, rematik dll, karena informasi dari kawan, keluarga, media, marketing dsb.
Akibatnya penderita benar-benar hanya diberikan obat tersebut , sedangkan pengobatan utama yang dianjurkan dokter ditinggalkan.
Pada akhirnya kanker tidak sembuh bahkan makin membesar, menjalar dan menyebar ke seluruh tubuh, dimana stadiumnya menjadi bertambah dari stadium satu atau dua menjadi stadium empat. Penderita menjadi lebih menderita, pengobatan menjadi lebih sulit, lebih lama, biaya lebih mahal, dengan hasil pengobatan yang menjadi kurang baik dibandingkan bila pengobatan diberikan pada stadium awal.
Sebenarnya yang disebut obat alternatif untuk kanker adalah operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon, imunoterapi. Sementara yang dimaksud masyarakat awam obat alternatif tumbuhan saat ini sebenarnya adalah sebagai suplemen dan bukan obat kanker, karena hingga saat ini belum ada penelitian obat alternatif tersebut yang sesuai dengan kaidah ilmiah yang telah diuraikan diatas
Saran dan anjuran dokter pada penderita kanker adalah tetaplah menjalani pengobatan utama yang sudah disarankan oleh dokter, sementara bila ingin menggunakan obat alternatif tumbuhan dan lainnya hanyalah sebagai suplemen atau tambahan dan sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter yang menangani. Jangan sebaliknya obat alternatif dijadikan obat utama sementara obat utamanya ditinggalkan dengan akibat kanker akan berkembang pesat.
Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau Pontianak Post atau Klinik Tumor dan Kanker Pontianak ( Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl. A.R Saleh (BLKI) A-5 Pontianak, telp. (0561)-583999.

BENJOLAN DIBAWAH KULIT

Tanya :
Dokter, saya laki-laki, umur 38 tahun, pada lengan kanan dan lengan kiri saya dan juga di perut dan di dada ada benjolan kecil-kecil seukuran kacang tanah sampai telur puyuh. Benjolannya saya rasakan ada di bawah kulit. Kulit saya tidak tampak kelainan.Saya juga tidak merasakan sakit. Apa itu tumor dok ? Apakah berbahaya ? Apakah bisa diobati tanpa harus dioperasi ? Terimakasih atas jawabannya dok. (Tedi, Pontianak).
Dokter, saya wanita, 30 tahun, pada pipi saya ada benjolan sebesar telur puyuh, tidak terasa sakit. Pernah saya tekan keluar cairan kental warna putih dan berbau. Setelah itu membesar lagi. Apakah itu tumor dok ? bagaimana mengobatinya ? Tolong jawabannya dok dan terimakasih. (Neli, Mempawah).

Jawab :
Benjolan yang tidak normal dan tumbuh pada tubuh manusia disebut tumor.
Tumor yang tumbuh di permukaan tubuh , baik yang muncul diatas permukaan kulit maupun yang tumbuh di bawah permukaan kulit pada umumnya dapat cepat diketahui oleh penderita, karena letaknya yang dipermukaan sehingga mudah diraba oleh penderita sendiri.
Tumor sebagian besar yaitu sekitar 70-80 % adalah tumor jinak. Tumor jinak ini dapat tumbuh dibagian tubuh mana saja, mulai dari ujung kepala sampai telapak kaki, dapat mengenai kulit, jaringan bawah kulit, otot bahkan tulang.
Tumor-tumor jinak ini pada dasarnya tidak terlalu berbahaya bila dibandingkan dengan tumor ganas atau kanker. Tumor jinak akan tumbuh ditempat dimana tumor berasal tumbuh dan tidak akan merusak jaringan sekitarnya dan tidak akan menyebar jauh ke paru, otak atau organ vital lainnya seperti halnya yang terjadi pada kanker. Pertumbuhannyapun relatif lambat, dimana tumor membesar memerlukan waktu yang lama.

Tumor jinak di permukaan kulit
Nevus pigmentosus, yaitu tumor jinak berwarna hitam atau hitam kecoklat-coklatan, berupa nodus atau tonjolan atau sedikit timbul dan merata diatas permukaan kulit (berbentuk plaque), pada kulit. Bisa terjadi dibagian tubuh mana saja., pada wajah, lengan, paha atau anggota tubuh lainnya.
Verruca atau kutil adalah tumor berbentuk tonjolan yang dilapisi oleh kulit yang keratosis sehingga permukaannya kasar dan tak teratur. Umumnya terdapat di kulit lengan atau tungkai, telapak kaki. Dapat singel atau multipel. Biasa orang sering menyebut kapalan. Penyebabnya adalah virus
Klavus adalah kelainan berbentuk tonjolan diatas permukaan kulit, menyerupai mata ikan di kulit telapak kaki yang sering nyeri bila dipakai jalan.
Kornu kutaneum merupakan kelainan kulit berupa tanduk kecil dan keras di kulit, umumnya terdapat di tungkai atau lengan.
Dermatofibroma adalah tumor kecil di kulit dengan konsistensi keras, berwarna coklat , menyerupai keloid.
Keloid adalah benjolan yang terjadi akibat pembentukan jaringan parut berlebihan yang tidak sesuai dengan bertanya trauma. Parut yang terjadi menebal dan melebar melampaui batas tepi luka. Sering mengenai daerah sternum(dada bagian tengah), bahu, pinggang, cuping telinga, wajah, payudara. Penyebabnya ada faktor keturunan atau bakat keloid.

Tumor jinak di bawah kulit (subkutan)
Kista sebacea atau ateroma adalah tumor kulit yang berbentuk kantung yang dilapisi epitel kelenjar, terdapat di kulit atau jaringan bawah kulit dan berisi sebum yaitu masa kental seperti bubur. Kista ini terjadi karena ada pembuntuan saluran kelenjar sebacea atau kelenjar lemak kulit. Dapat berukuran besar sebesar telur bebek.
Lipoma ialah tumor jinak jaringan lemak. Dapat single atau multipel, jumlahnya bisa mencapai puluhan. Bentuknya bulat, oval, bila dipegang terasa lunak sampai kenyal atau padat. Bila dibiarkan bisa tumbuh sampai ukuran sangat besar, bahkan ada yang mencapai 10 kg atau lebih dan dapat menggantung dari kulit seperti buah.
Kista dermoid, adalah suatu kista atau tumor yang berisi cairan kental seperti bubur yang disebut sebum, bisa berisi rambut, dimana kantungnya dilapisi oleh dermis. Umumnya letaknya pada bidang garis tengah tubuh. Dapat tumbuh di kepala, badan atau perut . Didapatkan pada anak-anak atau pada bayi sejak lahir.
Kista epidermoid adalah suatu kista yang kantungnya dilapisi epidermis berisi massa kental. Sering terdapat di kulit telapak kaki atau tangan. Penyebabnya diduga trauma dimana sel epidermis masuk ke subkutan dan tumbuh disana.
Fibroma ialah tumor jinak yang berasal dari jaringan ikat. Konsistensinya tergantung dari banyaknya jaringan ikat yang terdapat dalam tumor. Bisa teraba sangat keras.
Hemangioma adalah tumor jinak yang berasal dari pembuluh darah. Tumor ini berwarna merah atau kebiru-biruan. Terutama terdapat pada bayi dan anak-anak. Terletak di kulit atau dibawah kulit (subkutan), sebagian besar didaerah kepala dan leher.
Limfangioma, adalah tumor jinak yang berasal dari pembuluh limfe. Umumnya sudah ada sejak lahir atau timbul pada masa anak-anak. Sebagian besar terdapat di kepala dan leher.
Tumor desmoid ialah tumor jinak jaringan ikat yang umumnya berasal dari fascia atau selapu pembungkus otot dari fascia otot perut (musculus rectus).
Neurofibromatosis, merupakan penyakit kongenital, dimana tumor ini terletak di kulit atau subkutan , multipel (jumlah banyak) dengan konsistensi lunak. Biasanya disertai hiperpigmentasi kulit, dimana kulit menjadi lebih gelap, berupa plaque berwarna coklat. Dapat menyerang daerah wajah, badan, lengan kaki , bahkan seluruh tubuh.
Ganglion, merupakan suatu tumor berbentuk kista berisi cairan bening kental dengan dinding tipis yang berasal dari tonjolan selaput sinovia sendi atau sarung tendo. Biasanya terdapat di sekitar sendi, yang tersering di pergelangan tangan atau belakang lutut (fosa poplitea). Ukurannya dapat membesar dan menyebabkan keluhan sering pegal.
Limfadenitis adalah pembesaran kelenjar getah bening yang diakibatkan adanya infeksi baik oleh kuman TBC atau bukan.
TBC kelenjar sering mengenai daerah samping leher , bai pada anak maupun dewasa.
Penderita biasanya mengelu adanya benjolan di samping leher kiri atau kanan atau keduanya.
Cara Pengobatannya
Tumor jinak pada umumnya harus diobati dengan cara operasi, yaitu pengangkatan tumornya. Operasi dapat dilakukan dengan pembiusan lokal, kecuali pada keadaan tidak memungkinkan seperti pada anak kecil atau pada orang dewasa yang takut disuntik dan tidak tahan nyeri, atau juga karena tumornya ukurannya sangat besar sebaiknya dilakukan dengan bius umum.
Setelah diangkat tumornya, harus diperiksakan ke bagian patologi anatomi, agar dapat diketahui secara pasti jenis histopatologinya.
Bila jinak maka dengan pengangkatan tumro tersebut penderita dinyatakan sembuh.
Pada kasus infeksi seperti pada TBC kelenjar, maka harus dilanjutkan dengan pengobatan penyakit TBC nya yang memakan waktu 6-9 bulan.
Untuk sdr Tedi mungkin penyakit sdr adalah lipoma, sementara sdri Neli kemungkinan penyakit anda adalah kista ateroma. Namun untuk memastikannya, sebaiknya sdr periksa ke dokter. Pengobatannya adalah dengan cara operasi.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..
Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak

MAU OPERASI TUMOR KELENJAR GONDOK, TAKUT SUARA HILANG

Tanya :
Dokter, saya wanita , umur 34 tahun, di leher depan bagian bawah saya ada benjolan sebesar bola pimpong, yang sudah saya rasakan sekitar 2 tahun. Saya sudah berobat ke dokter, dan dikatakan tumor kelenjar gondok dan harus dilakukan operasi. Saya sebetulnya ingin dioperasi, tetapi menurut informasi yang saya peroleh, kalau dioperasi, maka ada resiko suara saya menjadi hilang, saya jadi takut. Apakah hal ini benar dok ? Kalau tidak dioperasi apa bahayanya ? Apa bisa diobati dengan cara lain selain operasi ? Terimakasih atas jawabannya. (Ny. Ida, Pontianak).

Jawab :
Benjolan atau tumor di leher depan dapat disebabkan oleh kelainan pada kelenjar gondok (kelenjar tiroid) , karena letak kelenjar gondok ada di leher depan bagian bawah, kalau pada laki-laki letaknya di samping kiri dan kanan jakun. Setiap pembesaran dari kelenjar gondok atau tiroid, disebut struma atau goiter.
Pembesaran kelenjar gondok disebabkan 4 macam kelainan yaitu pembesaran kelenjar tiroid yang fungsional akibat kekurangan yodium, kemudian karena pertumbuhan sel abnormal atau neoplasma baik yang jinak maupun yang ganas atau kanker, bisa juga karena inflamasi atau peradangan baik akut maupun kronis. Selain itu bisa karena kelainan bawaan atau congenital yang dibawa sejak lahir.
Benjolan pada kelenjar gondok yang sering dijumpai adalah struma non toksik, yaitu pembesaran kelenjar gondok yang biasanya disebabkan kekurangan yodium yang kronis. Gejalanya adalah adanya kelenjar gondok yang membesar dengan lambat bahkan tahunan. Jika struma ini ukurannya besar, maka dapat menyebakan gangguan mekanis berupa penekanan pada trakea atau jalan nafas sehingga menyebabkan kesukaran bernafas. Juga bisa mendesak saluran makanan sehingga menyebabkan sulit menelan. Umumnya kesehatan penderita tidak terganggu dan tidak ada keluhan rasa sakit.
Gejala tumor kelenjar gondok adalah berupa adanya benjolan di leher depan bawah. Kalau menelan , maka benjolan itu akan ikut bergerak naik saat menelan. Bila tumor kelenjar gondok jinak maka pembesarannya relatif lambat , bisa tahunan. Sedangkan bila ganas atau kanker, maka pembesarannya relatif cepat.
Benjolan bisa terjadi hanya pada satu sisi saja apakah dikanan atau di kiri atau ditengah, namun bisa juga di kedua tempat baik kiri maupun kanan , atau bisa juga di tengah-tengah leher bagian bawah
Dokter akan mendiagnosa apakah benjolan itu memang suatu neoplasma atau pertumbuhan sel abnormal, inflamasi atau lainnya. Tentunya pengobatannya disesuaikan dengan diagnosisnya. Kalau suatu inflamasi atau peradangan, maka dapat diobati dengan obat-obatan. Tetapi kalau suatu neoplasma atau daging tumbuh maka pengobatannya harus dengan operasi.


Komplikasi Operasi :
Operasi pengangkatan tumor kelenjar gondok memang ada resiko terjadi komplikasi. Namun dengan persiapan yang baik disertai tehnik operasi yang baik dan doa, Insya allah resiko itu dapat dihindarkan, walaupun tidak mutlak.
Sebelum operasi biasanya dilakukan serangkaian pemeriksaan, khusunya pada kadar hormon tiroid, dimana kadar hormon tiroid ini harus berada dalam ambang batas normal , tidak boleh kekurangan atau kelebihan dari batas yang sudah ditentukan.
Bila kadarnya lebih tinggi atau lebih rendah dari batas yang ditentukan, maka harus diobati dulu sampai mencapai batas ambang normal.
Resiko komplikasi yang mungkin terjadi antara lain, perdarahan, cedera saraf yang mengurus pita suara yaitu saraf atau nervus Recurrent laryngeus, obstruksi jalan nafas, dan lainnya.
Pada keadaan normal, kelenjar gondok besarnya sekitar 2x2,5x0,75 inchi. Namun bila sudah menjadi tumor, ukurannya bisa beberapa kali lipat.
Diantara bagian bawah kelenjar gondok dan saluran nafas (trakea), berjalan suatu saraf yang disebut Nervus Reccurens Laryngeus, yang tugasnya adalah memberi persarafan pada pita suara. Ukurannya sangat kecil, dan terdapat beberapa variasi letak dan perjalanan saraf ini.
Pada saat operasi saraf tersebut bisa saja terpotong atau terikat atau karena hal lainnya. Bila salah satu saraf ini cedera apakah di bagian kanan atau bagian kiri ,maka dapat mengakibatkan perbahan pada suara , dimana suara dapat berubah menjadi serak atau hilang. Bila kedua saraf ini cedera, maka dapat mengakibatkan sumbatan jalan nafas.
Jadi pada operasi tumor kelenjar gondok , memang ada resiko saraf recurrent laryngeus cedera yang dapat mengakibatkan suara menjadi serak atau hilang, jadi bukan pita suaranya yang cedera melainkan saraf yang mengatur pergerakan pita suara tersebut.
Apa resikonya bila tidak dioperasi ? Resikonya adalah tumor tetap ada dan semakin membesar, yang dapat menyebabkan gangguan menelan atau pernafasan. Selain itu juga ada resiko terjadinya keganasan, terutama bila tumor kelenjar gondoknya berbentuk noduler atau benjolan tunggal pada wanita diatas 50 tahun atau laki-laki diatas usia 40 tahun.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..
Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak

BILA KANKER DIOPERASI, APAKAH AKAN MENYEBARKAN KANKERNYA KE SELURUH TUBUH ?

Bila Kanker dioperasi,
Apakah Akan Menyebarkan ke seluruh Tubuh ?

Tanya :
Dokter, saya mau bertanya, ada anggapan yang menyatakan bahwa bila kanker dioperasi maka akibatnya lebih fatal karena kanker malah akan menyebar kemana-mana ? Hal inilah yang menyebabkan seseorang yang menderita kanker manjadi takut untuk berobat ke dokter dan akhirnya memilih berobat dengan cara pengobatan alternatif. Benarkah anggapan yang demikian itu dok ? Mohon penjelasan dari dokter. Terimakasih. ( Leni, Pontianak)


Jawab :

Kanker, terutama kanker jenis solid atau padat, pada umumnya tumbuh di satu tempat saja misalnya di payudara , di usus, di kulit, di rahim, namun seiring perjalanan waktu kanker akan tumbuh dan merusak jaringan disekitar kanker itu tumbuh dan pada akhirnya akan menyebar kemana-mana ke seluruh tubuh atau metastasis jauh, walaupun kanker itu tidak dioperasi. Mengapa demikian . Karena kanker memiliki sifat yang khas yaitu :
1. Tumbuh autonom ,artinya sel kanker mempunyai sifat untuk tumbuh terus menerus tanpa henti dan tanpa batas, liar, semaunya sendiri dan terlepas dari kendali pertumbuhan normal.
2. Menyusup dan merusak ( infiltrasi) ke jaringan dan organ sekitarnya dan metastasis atau menyebar ke tempat jauh, seperti ke paru, liver, tulang, otak dll.
Sel kanker dapat bergerak sendiri seperti amoeba dan lepas dari gerombolan sel-sel tumor induknya, masuk diantara sel-sel normal disekitarnya. Akibatnya timbul perlekatan ke jaringan sekitar (infiltrasi) dan sel kanker juga masuk ke pembuluh atau kelenjar getah bening maupun ke pembuluih darah mengadakan metastasis jauh baik ke kelenjar getah bening maupun ke paru, tulang,otak,lever dan lainnya.
3. Daya adhesi dan kohesi (daya perlekatan antar sel) sel kanker sangat kurang. Akibat dari hal ini, sel kanker mudah sekali lepas dari gerombolan sel induknya bila ada sedikit tekanan saja dan menyebabkan penyususpan diantara sel-sel normal.
Tidak semua kanker dikatakan melakukan metastasis. Pada kanker yang bukan kelompok kanker solid, misalnya pada kanker darah leukemia ,juga kanker kelenjar getah bening, sifat kanker golongan ini adalah kanker sistemik yang artinya saat terjadi dapat langsung ada di seluruh tubuh.
Oleh karena sifatnya yang khas dan membahayakan itulah, maka dalam menangani kanker ada prinsip onkologi atau bedah kanker yang harus diikuti,antara lain :
1. Tidak memakai anestesi infiltrasi (bius lokal ).Karena dengan anestesi infiltrasi, sel kanker dapat didorong menyebar oleh jarum suntik, juga tekanan yang ditimbulkan oleh cairan obat bius lokal dapat menyebabkan penyebaran sel kanker.
2. Tidak menekan-nekan massa tumor.
3. Masa tumor tidak boleh ditarik-tarik. Tekanan maupun tarikan pada masa tumor akan menyebabkan kapsul dan masa tumor atau kanker akan pecah, sehingga terjadi penyebaran.
4. Tumor harus diangkat dengan jaringan sehat sekitarnya. Saat mengangkat tumor, tidak boleh langsung memotong tumornya, tetapi harus dengan jaringan sehat sekitarnya ,bisa 1-3 cm bahkan lebih, diluar batas tumor, supaya akar-akar tunor atau kanker ikut terangkat.
5.Daerah kelenjar diangkat dalam satu kesatuan dengan tumor primernya. Contohnya pada operasi kanker payudara, maka kelenjar getah bening ketiak harus dibersihkan dan diangkat bersama kanker payudaranya.
6. Tidak menyentuh daerah parut bekas operasi atau borok dan luka akibat kanker.
7. Beberapa prinsip lainnya, seperti pemberian khemoterapi atau radioterapi bila kanker sudah dioperasi sebelumnya dan terjadi kekambuhan.
Operasi bukanlah satu-satunya faktor yang dapat menjamin kesembuhan terapi kanker. Banyak faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan antara lain stadium saat kanker mulai diobati dimana makin dini stadiumnya maka hasil pengobatannya akan semakin baik ; jenis histopatologis sel kanker ; derajat keganasan kanker ; terapi kombinasi lainnya seperti khemoterapi , radioterapi atau terapi hormonal. Selain itu juga kondisi pasien , usia, gizi dan banyak faktor lagi.
Dari berbagai penelitian sudah dibuktikan, walaupun kanker masih berukuran kecil, ternyata secara mikroskopis sering sudah ditemukan sel kanker pada kelenjar getah bening di dekatnya. Sebagai contoh, pada kanker payudaraa stadium satu, sering pada pemeriksaan patologi anatomi pada kelenjar getah bening ketiak sudah positif ada penyebaran sel kanker. Pada keadaan ini setelah operasi, wajib diberikan khemoterapi untuk membunuh sel-sel kanker mikroskopis tersebut yang belum tampak oleh mata biasa, sehingga tidak terjadi kekambuhan maupun metastasis jauh.
Bila kanker ditangani dengan baik, sesuai kaidah onkologi, Insya Allah , kekhawatiran akan kekambuhan dan penyebaran kanker kecil kemungkinannya untuk terjadi. Namun ada syaratnya, yaitu setelah operasi juga dilakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan ada tidaknya mikrometastasis, setelah itu dikombinasikan dengan pengobatan lain seperti dengan khemoterapi atau radiasi, sesuai dengan jenis dan stadium penyakit kankernya. Makin dini stadium kanker diobati,makin baik hasil pengobatannya dan resiko penyebaran makin kecil juga.
Permasalahan yang sering timbul adalah, masyarakat umumnya akan takut bila sudah didiagnosis kanker oleh dokter, kemudian mencari pengobatan alternatif ke orang pintar. Ada yang ditusuk-tusuk, dipijat, ditekan-tekan dengan ramuan, diurut-urut, dimana semua tindakan tersebut justru akan menyebarkan sel kanker pada jaringan sekitarnya dan ke seluruh tubuh.
Setelah menyerah orang pintarnya, barulah datang ke dokter dengan stadium yang sudah lanjut. Hal inilah yang sering ditemukan di Rumah Sakit. Akibatnya pengobatan kanker tidak bisa maksimal dan sering terjadi kekambuhan, apalagi bila tidak ditunjang khemoterapi atau radiasi. Inilah yang seolah-olah membangunkan macan tidur, mengapa setelah dioperasi , kankernya kok malah menyebar ke seluruh tubuh. Padahal yang sebenarnya memang penyakit kankernya sendiri sudah ada secara mikroskopis di seluruh tubuh sebelum dioperasi sekalipun.
Prinsipnya, harapan kesembuhan atau prognosis kanker adalah tergantung pada stadium kanker saat mulai diobati. Selain itu faktor lain yang ikut berpengaruh antara lain tehnik operasi yang mengikuti kaidah onkologi ; obat-obatan kombinasi yang diberikan; kontrol atau follow up setelah operasi dan banyak faktor lagi.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab, bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghunbungi : HP 081321862268 / 0561-7535262 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak ( Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl. A.R. Saleh (BLKI) No A-5, telp. 0561-583999.
Untuk Konsultasi :
1. Klinik Bedah Tumor/Onkologi RSUD Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak.

TUMOR DAERAH LEHER PADA ANAK DAN PENGOBATANNYA

Tanya :
Dokter, anak saya , wanita umur 12 tahun ada benjolan di leher di bawah dagunya yang saya ketahui sudah ada sejak kecil umur setahun dan saat itu masih kecil. Sekarang tumor itu sudah tambah membesar seukuran bola pimpong. Karena tidak ada keluhan rasa sakit, jadi sampai saat ini saya biarkan. Tumor apakah itu dokter, dan apakah berbahaya ? Tolong dijawab dok. Terimakasih. (Ny.Teti, Pontianak).
Dok, anak saya laki-laki, umur 6 tahun di bawah telinga kirinya ada benolan sebesar telur puyuh, yang saya ketahui baru 6 bulan. Sudah diperiksa ke dokter dan dikatakan tumor dari pembuluh darah dan harus dilakukan operasi. Apakah itu penyakit yang berbahaya dok ? Mohon jawabannya, terimakasih. (Ny. Endang, Ketapang)
Jawab :
Benjolan yang tidak normal pada tubuh disebut tumor. Tumor yang sebenarnya adalah adanya pertumbuhan sel tubuh diluar kontrol yang biasa disebut neoplasma. Disamping itu kelainan berupa tumor dapat disebabkan oleh kelainan kongenital atau kelainan bawaan lahir, infeksi , trauma dan lainnya. Tumor pada anak yang paling sering adalah yang disebabkan kelainan bawaan lahir dan infeksi.
Tumor atau benjolan di daerah leher pada anak yang sering didapatkan adalah kelainan bawaan lahir berupa kista brankhiogenik, kista duktus tiroglosus, higroma kistik leher, hemangioma. Selain itu karena infeksi pada kelenjar getah bening leher yaitu limfadenitis.
Kista duktus tiroglosus.
Gejala penyakit ini berupa adanya benjolan yang terdapat di sekitar garis tengah leher bagian depan bisa terletak di bawah dagu atau agak ke bawah di pertengahan leher , dan ikut bergerak waktu menelan atau bila lidah dijulurkan. Kelainan ini disebabkan adanya saluran atau duktus yang tidak menutup dengan sempurna sehingga terjadi kista. Pengobatan pada kelainan ini adalah dengan cara operasi seluruh kista dan duktus sampai di dekat pangkal lidah. Jika ada sisa duktus tertinggal, dapat terjadi kekambuhan.
Kista Brankhiogenik.
Kelainan ini berupa benjolan sejak lahir. Dapat berupa benjolan dengan permukaan kulit normal dapat juga disertai kulit kemerahan. Ada juga yang disertai keluarnya cairan dari lubang kecil disekitar benjolan, karena adanya fistel.
Benjolan dapat terletak di dekat depan lubang telinga, di leher samping kiri atau kanan di depan otot sternokleidomastoideus ( otot di samping leher kiri dan kanan ).
Pengobatan penyakit ini adalah dengan cara operasi pengangkatan benjolannya disertai salurannya. Bila pada pengangkatan tersebut masih tersisa fistel, dapat terjadi kekambuhan.
Higroma kistik koli
Keluhan penyakit ini adalah adanya benjolan di leher yang telah lama atau sejak lahir tanpa nyeri atau keluhan lain. Benjolan dapat berbenjol-benjol dan lunak, permukaannya halus. Kebanyakan terletak di leher. Higroma kistik ini dapat mencapai ukuran yang besar dan menyusup ke otot leher dan daerah sekitarnya seperti rongga mulut dan lidah. Penyebab kelainan ini adalah karena adnya kelainan pada pembuluh saluaran kelenjar getah bening atau pembuluh limfe.
Pengobatannya dengan cara operasi, pengangkatan seluruh massa kista. Bila ukuran kista terlalu besar dan mengenai organ vital, kadangkala pengangkatan hingga bersih sama sekali sulit dilakukan sehingga operasi dilakukan dengan pengambilan sebanyak-banyaknya kista.
Hemangioma
Hemangioma adalah tumor pembuluh darah . Ada dua golongan yaitu hemangioma kapilare dan hemangioma kavernosum.
Hemangima kapilare, kelainannya berupa bercak atau bintik warna kemerahan seperti anggur yang ada sejak lahir , kemudian membesar dengan cepat.
Hemangioma kavernosusm terdiri dari jaringan pembuluh darah yang membentuk rongga. Kelainannya berada di jaringan yang lebih dalam di bawah kulit dermis. Dari luar tampak benjolan berwarna kebiruan yang dapat dikempeskan dengan penekanan tetapi menonjol kembali bila tekanan dilepaskan. Kelainan ini dapat meluas dan menyusup ke jaringan sekitarnya. Jaringan diatas hemangioma dapat mengalami kekurangan oksigen atau iskemeia sehingga rusak dan dapat menombulkan tukak yang sulit sembuh. Pengobatan hemangioma kavernosus ini adalah dengan cara operasi.
Limfadenitis colli.
Limfadenitis colli adalah peradangan pada kelenjar getah bening di daerah leher.
Kelinan bisa berupa limfadenitis acut dan bisa juga limfadenitis tbc.
Limfadenitis acut terjadi sebagai akibat adanya peradangan di kulit daerah leher atau adanya peradangan pada organ dan jaringan daerah kepala dan leher. Gejalanya berupa pembengkakan kelenjar di daerah leher yang terasa nyeri dan sering disertai demam. Pengobatannya dengan obat-obata yang sesuai.
Limfadenitis tbc, terjadi karena adanya infeksi kuman tbc pada kelenjar getah bening di leher. Kuman tbc masuk melalui makanan ke rongga mulut dan melalui tonsil memncapai kelenjar limfe di leher, sering tanpa disertai tanda tbc paru.
Gejalanya berupa benjolan di samping leher kiri atau kanan atau kiri dan kanan sekaligus, benjolan bisa satu buah dan bisa juga beberpa buah sekaligus. Benjolan ukurannya bisa kecil bisa juga besar. Bila mengenai kulit, kulit akan meradang, merah, bengkak, dan sedikit nyeri. Kuliot dapat menipis dan jebol, mengeluarkan cairan seperti keju. Bekas kulit yang jebol bila sembuh dapat terbentuk jaringan parut yang kurang b aik.
Pengobatannya adalah dengan pemberian obat tbc selama 6-9 bulan.
Untuk Bpk Beni, Andri dan Ny. Emi, mungkin anak penyakitnya termasuk salah satu yang saya jelaskan diatas. Namun untuk memastikannya, sebaiknya segeralah periksakan anak sdr ke dokter, agar dapat diperiksa dan didiagnosis penyakit yang sebenarnya sehingga dapat diupayakan pengobatannya sesuai dengan penyakit anak tersebut.
Untuk Ibu Teti, mungkin anak ibu menderita penyakit kista duktus tiroglosus, bila tetap dibiarkan penyakit ini akan makin bertambah besar. Memang penyakit ini tidak pernah menimbulkan rasa sakit, namun benjolan itu sendiri sebenarnya sudah merupakan penyakit. Kelainan ini termasuk tumor jinak, bukan kanker yang membahayakan. Pengobatannya harus dilakukan operasi. Sementara untuk Ibu Endang, kalau sudah dikatakan oleh dokter itu adalah tumor pembuluh darah, berarti anak ibu menderita hemangioma, dan pengobatannya juga harus dengan cara operasi.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..
Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak

GONDOK BERACUN (STRUMA TOKSIK), APAKAH DAPAT DIOPERASI ?

Tanya :
Dokter, saya laki-laki, 38 tahun, ada benjolan di leher depan saya, sudah saya derita selama 3 tahun lebih. Sejak ada benjolan tersebut, saya juga sering cepat lelah, sering berdebar, tangan gemetar dan telapak tangan sering berkeringat. Saya sudah berobat ke dokter, dan dikatakan sakit gondok beracun, dan saya disuruh minum obat.
Obat tersebut sudah saya konsumsi selama 3 tahun lebih, awalnya gejala yang saya rasakan mulai berkurang, namun sekarang muncul lagi.Pernah oleh dokternya disarankan untuk operasi. Namun oleh dokter bedah yang menangani saya ,disarankan diobati dulu sampai keadaannya tenag katanya. Saya sudah cuikup lelah berobat dok. Apakah benjolan itu bisa dioperasi dok ? Apa bahayanya bila dilakukan operasi ? Tolong dijawab ya dok. Terimakasih. ( Yuda, Pontianak).

Jawab :
Oleh dokter yang merawat sdr, dikatakan sakit gondok beracun, itu artinya sdr
Kemungkinan sdr menderita penyakit gondok (kelenjar tiroid) atau istilah medisnya struma / goiter yang toksik atau goiter toksik difus, disebut juga penyakit Graves.
Penyakit ini menyerang kelenjar gondok, yang berupa benjolan di kelenjar gondok di kiri dan kanan dengan disertai beberapa keluhan gejala klinis.
Gejala klinis atau keluhan yang sering dirasakan oleh penderita ini adalah sering gelisah, mudah capai, mata kadang seperti melotot, berkeringat banyak, tidak tahan panas, sering terjadi penurunan berat badan tanpa penurunan nafsu makan, sering berdebar, tangan gemetar.
Penyakit ini adalah salah satu penyakit dari kelenjar gondok (tiroid). Sebagaimana kita ketahui bahwa kelenjar gondok letaknya adalah di leher bagian depan, kalau pada laki-laki kira-kira letaknya disamping jakun disebelah kiri dan kanan. Normal ukuran kelenjar gondok, masing-masing panjang sekitar 2,5-4 cm dan lebar 1,5-2 cm dan tebal 1-1,5 cm.Pada orang dewasa beratnya 10-20 gram.
Kelenjar gondok/tiroid merupakan organ khusus terbesar untuk fungsi endokrin dalam tubuh manusia. Fungsinya adalah untuk mensekresikan sejumlah hormon tiroid yang cukup untuk kebutuhan tubuh, terutama tetraiodotironin (t4) dan dalam jumlah yang lebih kecil berupa triiodotironin (T3). Hormon tiroid merangsang pertumbuhan dan perkembangan normal dan mengatur sejumlah fungsi homeostasis, termasuk produksi energi dan panas yang dibutuhkan tubuh.
Pada orang sehat, pengaturan hormon tiroid di dalam tubuh diatur sedemikian rupa sehingga kadarnya selalu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, tidak kekurangan dan tidak kelebihan . Pertumbuhan dan fungsi dari kelenjar tiroid dikendalikan melalui suatu siklus otak ( hipotalamus-hipofisis )-tiroid.- hormon dalam tubuh. Bila kadar hormon tiroid dalam tubuh berkurang, otak akan menyuruh kelenjar tiroid supaya memproduksi lebih banyak sehingga kebutuhan tercukupi, demikian pula sebaliknya.
Pada penyakit Graves, mekanisme pengaturan ini tidak dapat berjalan dengan semestinya, akibatnya kadar hormon tiroid dalam tubuh meningkat (hipertiroid),
dan terjadilah kelainan di dalam tubuh dengan gejala yang sudah disebutkan diatas. Penyakit ini adalah penyakit autoimun yang penyebabnya tidak diketahui. Wanita lebih sering terkena disbanding laki-laki, kira-kira 5:1. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur, dengan insiden puncak pada usia 20-40 tahun.
Pengobatan
Walaupun mekanisme autoimun bertanggungjawab atas penyakit sindroma Graves ini, pengobatannya terutama ditujukan pada pengendalian hipertiroidiismenya.
Ada 3 cara pengobatan yaitu 1)terapi obat antitiroid 2) operasi 3) terapi iodine radioaktif.
Pengobatan dengan obat antitiroid seperti propil tiourasil (PTU) atau lainnya diberikan sampai penyakitnya mengalami remisi spontan, dimana kelenjar tiroid ukurannya kembali normal dan pasien dapat dikontrol dengan obat antitiroid dosis yang relatif kecil. . Lama terapi bervariasi berkisar dari 6 bulan sampai 15-20 tahun. .
Insidens kambuh kembali cukup tinggi.
Terapi bedah atau operasi, merupakan terapi pilihan untuk pasien dengan ukuran kelenjar tiroid yang sangat besar atau goiter multinoduler. Selain itu juga diindikasikan pada penderita yang tidak berhasil diobati dengan obat-obatan
Bila akan dilakukan operasi, penderita tidak boleh dalam keadaan hipertiroid, harus diobati dulu sampai keadaan eutiroid yaitu keadaan dimana kadar hormon tiroidnya dalam batas normal.
Bila dalam keadaan hipertiroid dilakukan operasi, akan sangat berbahaya, karena bisa terjadi keadaan yang disebut krisis tirotoksikosis atau “thyroid storm”.. Pada keadaan ini, pasien bisa panas tinggi , berkeringat banyak, muka kemerahan, jantung berdebar kencang dan tidak beraturan, tekanan nadi tinggi, kadang bisa terjadi gagal jantung. Bisa juga gejala susunan saraf seperti gelisah, sampai koma. Gejala lainnya bisa berupa diare, mual, muntah. Akibat yang paling fatal adalah gagal jantung, syok dan kematian.
Oleh karena itu, pada penderita gondok beracun, bila hendak menjalani operasi, tidak bisa langsung dilakukan operasi kapan saja, melainkan harus diobati dulu sampai keadaan hormon tiroid tubuhnya tenang. Pengobatan dengan obat-obat antitiroid dilanjutkan sampai kadar hormon tiroid dalam batas normal, kemudian juga diberikan cairan lugol selama 10 hari sebelum operasi 10 tetes sehari (5 tetes 2 kali sehari) untuk mengurangi vaskularitas kelenjar dan mempermudah operasi.
Pengobatan hipertiroid supaya menjadi eutiroid, membutuhkan waktu yang bervariasi. Bisa 1-2 bulan atau bahkan bisa lebih. Masalahnya terkadang pasien tidak sabar, dan sering putus asa atau bahkan memaksa minta segera dioperasi apapun resikonya. Dengan mengetahui resiko komplikasi yang akan terjadi bila operasi tetap dipaksakan pada keadaan hipertiroid, semoga para pasien menjadi lebih mengerti dan bersabar, karena tujuan dari operasi ini adalah mencapai kesembuhan dan menghindari terjadinya komplikasi.
Jenis operasi pada penyakit gondok beracun adalah pengangkatan seluruh kelenjar tiroid atau dengan meninggalkan sedikit jaringan yang masih normal. Bila semua kelenjar tiroid harus diangkat karena semua jaringannya sudah tidak normal, maka sesudahnya penderita harus minum obat hormon tiroid .
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..
Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak

KANKER PAYUDARA STADIUM LANJUT,MASIH ADAKAH HARAPAN SEMBUH ?

Tanya :
Dokter, isteri saya terkena kanker payudara kanan , sudah diperiksa ke dokter, termasuk pemeriksaan biopsy tusuk jarum. Sudah dirontgent, dan USG ternyata sudah menyebar ke liver . Dikatakan oleh dokter, sudah stadium 4. Sudah dilakukan kemoterapi 2 kali, namun belum sembuh, dan isteri saya jadi putus asa, tidak mau melanjutkan pengobatan lagi. Bagaimana pengobatan selanjutnya dok ? Tolong dijawab (Ardi, Pontianak).

Jawab :
Banyak sekali pertanyaan serupa yang diajukan kepada saya yang pada intinya menanyakan apakah kanker stadium lanjut masih dapat disembuhkan. Kasus atau jenis kanker yang ditanyakan juga bermacam-macam, selain yang ditanyakan diatas, ada juga kasus kanker kelenjar gondok, kanker kulit, kanker rahim, kanker kelenjar getah bening , dll.
Pada umumnya mereka berharap bahwa kanker yang menimpa keluarga atau dirinya tersebut masih dapat disembuhkan dalam arti sebenarnya seperti penyakit lain. Artinya mereka berharap kanker dapat sembuh dan penderita dapat sehat seperti semula. Suatu hal yang sangat manusiawi.

Ukuran Kesembuhan
Pada kanker atau tumor ganas, terdapat beberapa istilah atau ukuran yang menggambarkan tingkat harapan kesembuhan.
Cure atau sembuh adalah istilah yang menggambarkan sembuh secara klinis dimana tidak ada kanker lagi yang terdeteksi dan penderita memiliki harapan hidup yang sama dengan orang sehat.
Survival rate atau tingkat harapan hidup, menggambarkan berapa lama dan berapa persen penderita kanker dapat bertahan hidup pada suatu fase waktu , misalnya 5 tahun, 10 tahun dst.
Disease-free interval atau tingkat bebas dari kekambuhan, menggambarkan berapa lama waktu bebas kanker secara klinis setelah diobati sampai terjadi kekambuhan kembali penyakit kankernya.
Respons pengobatan, menggambarkan respons suatu kanker terhadap suatu upaya pengobatan baik kemoterapi, radioterapi, artinya setelah diberikan kemoterapi atau radioterapi maka ukuran tumor apakah akan mengecil, tetap atau malah makin membesar.
Secara umum yang terlihat oleh penderita dan keluarga adalah respons pengobatan. Namun respons pengobatan tidak identik dengan tingkat harapan hidup dan tingkat bebas dari kekambuhan maupun kesembuhan.
Tiap Kanker Berbeda
Sifat kanker satu dengan yang lain sangat berbeda sifatnya. Ada kanker yang sifatnya sangat jahat dan cepat sekali merusak ke jaringan disekitarnya dan menyebar jauh, namun ada juga kanker yang relatif baik yang jarang sekali menyebar jauh.
Ada juga kanker yang sifat kekambuhan lokalnya sangat tinggi, walaupun sudah dioperasi maupun radioterapi. Ada juga kanker yang sering kambuh di tempat jauh walaupun sudah dioperasi dan di kemoterapi.
Kanker yang sama juga memiliki sifat yang berbeda. Sebagai contoh kanker payudara, memiliki tipe histopatologi yang berbeda yang masing-masing akan mempengaruhi sifatnya apakah jahat sekali atau hanya jahat saja.
Demikian juga kanker jaringan lunak , banyak sekali subtypenya yang masing-masing memiliki sifat yang berbeda sifat kejahatannya.
Kanker yang masih bersifat agak baik dan hampir dapat disembuhkan dengan cara operasi adalah kanker kulit basal cell carcinoma. Bila belum terlalu besar, dengan operasi radikal sampai tepi dan dasar sayatan bebas tumor, maka kanker ini dapat sembuh total , dan jarang kambuh dan sangat jarang sekali bahkan hampir tidak pernah menyebar jauh.
Kanker yang berespons sangat baik dengan kemoterapi adalah kanker kelenjar getah bening. Kanker ini pengobatan utamanya memang dengan kemoterapi. Walaupun ukurannya besar, namun setelah diberi kemoterapi akan mengecil dan bahkan hilang. Respons atau hasil kesembuhannya relatif baik,.
Pengobatan kanker, sebagian besar merupakan pengobatan multimodalitas, artinya diperlukan beberapa upaya pengobatan sekaligus. Pengobatan dapat berupa kombinasi kemoterapi-operasi-kemoterapi. Bisa juga operasi-kemoterapi, atau kombinasi kemoterapi dan radioterapi. Ada juga yang dilakukan operasi-kemoterapi lalu terapi hormon. Selain itu juga ada yang radioterapi-operasi dan kemoterapi. Namun ada juga kanker yang dapat disembuhkan dengan satu cara pengobatan , misalnya operasi saja atau kemoterapi saja. Tergantung pada jenis kankernya, jenis pengobatan mana yang harus diberikan.
Harapan penderita, keluarga maupun dokter adalah kesembuhan total penderita. Namun hingga saat ini dengan semua jenis pengobatan yang ada, masih ada beberapa kanker yang walaupun sudah diobati dengan semua pengobatan , namun masih juga bisa kambuh dan belum dapat dicapai kesembuhan total.
Pada umumnya, semakin dini stadium kanker saat diobati, maka tingkat harapan hidup atau survival makin tinggi dan tingkat bebas penyakit semakin lama, serta semakin kecil resiko kekambuhan. Demikian pula sebaliknya.
Untuk kanker stadium empat, artinya kanker sudah menyebar ke tempat jauh, pengobatannya adalah dengan pengobatan yang bersifat sistemik yaitu dengan kemoterapi atau terapi hormon, tergantung pada jenis kanker dan sifatnya.
Sayangnya ,tidak semua kanker berespons baik dengan kemoterapi. Pada kasus-kasus demikian , maka upaya pengobatan ditujukan pada upaya paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup penderita, bukan lagi kuratif untuk mencapai kesembuhan.
Menghadapi cobaan yang menimpa isteri bapak yang terkena kanker stadium lanjut, yang terpenting adalah tetap berikhtiar, dengan menjalankan pengobatan yang memang sudah ada , yang dianjurkan oleh dokter yang merawatnya , sambil senantiasa berdoa, karena takdir hanya Allah yang punya. Pengobatan kemoterapi ada beberapa tahapan, ikuti saja apa yang sudah dianjurkan dokter, karena nantinya akan selalu diupayakan pengobatan penyakitnya sesuai perkembangannya.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..
Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak