Sabtu, 07 Maret 2009

FAKTOR RESIKO YANG MENYEBABKAN WANITA TERKENA KANKER PAYUDARA

Tanya :
Dok, saya wanita umur 30 tahun. Kakak saya terkena kanker payudara dan harus dilakukan operasi pengangkatan kanker beserta payudaranya. Saya jadi takut, apakah saya juga akan terkena kanker payudara ? Faktor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan seorang wanita bisa terserang kanker payudara. Tolong dijawab dok. Terimakasih. ( Leli, Ketapang).

Jawab :

Kanker payudara merupakan salah satu kanker yang sering menyerang wanita. Banyak diantara penderita kanker payudara ini yang datang berobat sudah dalam keadaan stadium lanjut. Pengobatannya tergantung pada stadium kanker payudara didiagnosis dan dilakukan pengobatan. Salah satunya adalah dengan operasi pengangkatan kanker beserta payudaranya.
Faktor resiko apa saja yang dapat menyebabkan seorang wanita rentan terkena kanker payudara ? Secara garis besar faktor resiko itu adalah karena faktor keturunan atau genetik dan pengaruh faktor non genetik yang berasal dari lingkungan .
Kelompok resiko tinggi pada wanita yang dapat terkena kanker payudara adalah sebagai berikut :
- Usia : wanita diatas umur 30 tahun mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terkena kanker payudra dan resiko akan bertambah tinggi sampai umur 50 tahun dan setelah menopause.
- Pernah mempunyai riwayat kanker payudara, resiko untuk terkena kanker payudara pada payudara sebelahnya akan lebih besar, sekitar 7 %.
- Usia diatas 25 tahun yang anggota keluarganya apakah ibu, saudara perempuan ibu, saudara perempuan satu ibu ada riwayat pernah menderita kanker payudara.
- Tidak menikah.
- Menikah tetapi tidak pernah melahirkan anak.
- Melahirkan anak pertama sesudah usia 35 tahun.
- Tidak pernah menyusui anak.
- Menderita kelainan atau tumor payudara berupa fibrokistik yang besar (kista payudara).
- Menarche atau mendapatkan haid pertama kali pada usia sangat muda.
- Mengalami radiasi sebelumnya pada payudara , misalnya pada pengobatan keloid.
- Cenderung ke obesitas atau kegmukan.
- Pernah dioperasi pada payudara atau alat reproduksi / kandungan.
- Pernah mendapat terapi hormonal yang lama, misalnya pada infertilitas.

Mengenai kontrasepsi oral yang merupakan gabungan estrogen dan progesterone dinyatakan tidak banyak pengaruhnya pada resiko kanker payudara, namun sebaiknya hanya diberikan pada wanita usia 20-30 tahun.
Penggunaan kontrasepsi yang mengandung estrogen dalam bentuk apapun tidak dianjurkan diberikan kepada wanita dengan kasus-kasus sebagai berikut :
- penderita yang mempunyai riwayat keluarga menderita kanker payudara.
- Penderita dengan kelainan payudara fibrokistik yang besar.
- Penderita dengan kelainan payudara berupa papiloma multipel.
- Penderita dengan kanker payudara jenis karsinoma lobuler in situ.
Apa yang sebaiknya dan harus dilakukan bila seorang wanita mempunyai faktor resiko yang disebutkan itu ? Bila ada salah satu atau lebih faktor resiko tersebut, maka sebaiknya segeralah melakukan deteksi dini kanker payudara .
Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan dengan cara :
- melakukan kontrol secara berkala ke dokter ahli, bila perlu dibantu dengan pemeriksaan penunjang berupa ultrasonografi (USG) , mammografi, dan lainnya.
- Pada wanita diatas usia 25 tahun dengan riwayat keluarganya ada yang terkena kanker payudara dianjurkan pemeriksaan lebih awal .
- Melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) dengan baik.
- Dianjurkan dilakukan biopsi lebih dini bila menderita tumor payudara jenis fibrokistik.
Untuk menemukan kanker payudara dalam stadium dini selain pemeriksaan penunjang seperti USG dan mammografi, penting sekali melakukan pemeriksaan fisik yang teliti. Sebaiknya dilakukan disaat pengaruh hormon estrogen dan progesterone seminim mungkin, yaitu kurang lebih satu minggu setelah menstruasi dihitung dari hari pertama menstruasi. Bila dicurigai suatu kanker payudara, maka sebaiknya dilakukan biopsy berupa biopsy aspirasi jarum halus atau FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy).
Bila pada wanita kelompok resiko tinggi terkena kanker payudara sudah dilakukan semua pemeriksaan dan tidak ditemukan kelainan, berarti pada saat tersebut dinyatakan tidak terkena kanker payudara. Namun bukan berarti lalu tidak pernah periksa lagi. Pemeriksaan sebaiknya tetap dilakukan . Pemeriksaan payudara sendiri dilakukan secara rutin sebulan sekali, sementara pemeriksaan yang lengkap dilakukan minimal 6 bulan atau 1 tahun sekali
Bila pada pemeriksaan ditemukan adanya benjolan di payudara sekecil apapun, segeralah berobat ke dokter ahli, untuk ditentukan apakah benjolan tersebut adalah tumor jinak atau tumor ganas (kanker). Bila dinyatakan kanker, maka harus segera diobati sesuai dengan stadiumnya.
Yang harus diingat adalah bahwa kanker payudara pada stadium dini jarang sekali atau bahkan tidak menimbulkan rasa sakit. Akibatnya penderita merasa tidak ada penyakit. Padahal gejala utama kanker payudara adalah adanya benjolan pada payudara.
Sayangnya tidak semua wanita secara rutin memeriksa payudaranya sendiri untuk mengetahui ada atau tidaknya benjolan pada payudara. Ada juga yang melakukan pemeriksaan payudara, namun tidak dapat membedakan mana yang benjolan berupa tumor atau kanker dengan kelenjar payudara normal. Kalaupun meraba adanya benjolan, terkdang menganggap itu kelenjar payudara biasa.
Pada keadaan yang ragu, segeralah periksa ke dokter ahli agar dapat dipastikan ada tidaknya tumor atau kanker, sehingga kanker payudara dapat ditemukan dalam stadium dini, sehingga hasil pengobatannya menjadi baik.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268 / 05617089720 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl.A.R Saleh (BLKI) No. A-5 Pontianak, Telp. 0561-583999..
Untuk konsultasi : 1. Klinik Bedah Onkologi RSUD Dr. Soedarso
2. Klinik Tumor dan Kanker Pontianak .

1 komentar:

  1. Transfer Factor bukan Vitamin,Herbal,Enzym,Kolostrum,Hormon,Cell Food,Mineral,Magnet atau Obat,
    Transfer Factor adalah molekul pendidik sistim imun (Immune IQ).
    Merupakan penemuan yang paling bersejarah dalam imunologi.
    Pada abad 21 ini Transfer Factor akan menjadi satu-satunya kunci utama untuk meraih kesehatan dan kehidupan yang optimal.

    Dalam fungsi meningkatkan sistem imun,Transfer Factor adalah :
    a.30 kali lebih efektif dari Royal Jelly,Spirulina,Ginseng,Gamat,Propolis,Green Tea,Wheat Grass dan Ginko
    b.29 kali lebih efektif dari Noni dan Aloe Vera
    c.19 kali lebih efektif dari Susu Awal Sapi/Kolostrum
    d.15 kali lebih efektif dari Cordyceps
    e.10 kali lebih efektif dari Shitake dan Echinaceae
    f.8 kali lebih efektif dari Lingzhi, Ganoderma dan IP6

    Transfer Factor dapat digunakan untuk :
    A. Penyakit yang disebabkan oleh lemahnya sistem imun
    - Kanker, TUmor
    - Diabetes
    - Hipertensi
    - Stroke
    - HIV
    - LEUKIMIA
    - Thypoid
    - Hepatitis
    - Flu Burung
    - Influenza
    - Sinusitis
    - Demam berdarah
    - Vertigo
    - Maag
    - SARS
    - Gagal Ginjal
    - PArkinson's
    - Alzheimer
    - Arhtritis
    - TBC
    - Infeksi
    - Penyakit Kulit
    - Malaria,dll.
    B. Penyakit yang disebabkan karena sistem imun yang tidak normal (Auto Imune Disease)
    - Myasthenia gravis
    - Acute disseminated encephalomyelitis
    - Multiple Sclerosis
    - Gullain-Barre syndrome
    - Paraneoplastic neurologic disorders
    - Cerebellar degneration
    - Lupus
    - Psoriasis
    - Allergi
    - Asma
    - Autoimmune chronic active hepatitis
    - Primary biliary sclerosis
    - Gastrointestinal tract
    - Pernicious anemia
    - Inflammatory bowel disease
    - Rheumatoid Arthritis
    INFO LEBIH LANJUT HUB : 081902153550

    BalasHapus