Sabtu, 07 Maret 2009

GEJALA DAN PENGOBATAN KANKER KOLON DAN KANKER REKTUM

Tanya :
Dokter, ibu saya menderita kanker usus di usus besar sebelah kanan dan diatas lubang dubur, waktu didiagnosis sudah stadium lanjut. Saya mau tanya dok, apa sih penyebabnya ? Dapatkah diketahui secara dini ? Saya jadi takut, apakah saya juga pasti terkena ? Kalau sudah terkena kanker ini, bagaimana cara mengobatinya?
Terimakasih atas jawabannya dok. ( Linda, Pontianak )

Jawab :
Usus besar adalah bagian dari sistim pencernaan. Sebagaimana kita ketahui sistim pencernaan dimulai dari mulut lalu kerongkongan (esofagus), lambung, usus halus (duodenum, yeyunum, ileum), usus besar (kolon) ,rektum dan berakhir di dubur.
Usus besar terdiri dari kolon dan rektum. Kolon atau usus besar adalah bagian usus sesudah usus halus, terdiri dari kolon sebelah kanan (kolon asenden), kolon sebelah tengah atas (kolon transversum) dan kolon sebelah kiri (kolon desenden).
Setelah kolon barulah rektum yang merupakan saluran diatas dubur Bagian kolon yang berhubungan dengan usus halus disebut caecum, sedangkan bagian kolon yang berhubungan dengan rektum disebut kolon sigmoid.
Kanker adalah penyakit pertumbuhan sel yang bersifat ganas. Bisa mengenai organ apa saja di tubuh manusia. Bila menyerang di kolon maka disebut kanker kolon, bila mengenai di rektum, maka disebut kanker rektum. Bila mengenai kolon maupun rektum maka disebut kanker kolorektal.
Kanker kolon seperti sifat kanker lainnya, memiliki sifat dapat tumbuh dengan relatif cepat, dapat menyusup atau mengakar (infiltrasi) ke jaringan disekitarnya serta merusaknya, dapat menyebar jauh melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah ke organ yang jauh dari tempat asalnya tumbuh, seperti ke liver, paru-paru yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan baik.
Penyebab dan Faktor Resiko
Hingga saat ini tidak diketahui dengan pasti apa penyebab kanker kolorektal.
Tidak dapat diterangkan, mengapa pada seseorang terkena kanker ini sedangkan yang lain tidak. Namun yang pasti adalah bahwa penyakit kanker kolorektal bukanlah penyakit menular.
Terdapat beberapa faktor resiko yang menyebabkan seseorang akan rentan terkena kanker kolorektal yaitu : usia, polyp kolorektal, riwayat kanker kolorektal pada keluarga, kelainan genetik, pernah menderita penyakit sejenis, radang usus besar, diit, merokok.
Usia, umumnya kanker kolorektal menyerang lebih sering pada usia tua. Lebih dari 90 persen penyakit ini menimpa penderita diatas usia 50 tahun. Walaupun pada usia yang lebih muda dari 50 tahunpun dapat saja terkena. Sekitar 3 % kanker ini menyerang penderita pada usia dibawah 40 tahun,
Polyp kolorektal adalah pertumbuhan tumor pada dinding sebelah dalam usus besar dan rektum. Sering terjadi pada usia diatas 50 tahun. Kebanyakan polyp ini adalah tumor jinak, tetapi sebagian dapat berubah menjadi kanker. Menemukan dan mengangkat polyp ini dapat menurunkan resiko terjadinya kanker kolorektal.
Riwayat keluarga terkena kanker kolorektal. Bila keluarga dekat yang terkena (orangtua, kakak, adik atau anak), maka resiko untuk terkena kanker ini menjadi lebih besar, terutama bila keluarga yang terkena tersebut terserang kanker ini pada usia muda.
Kelainan genetik. Perubahan pada gen tertentu akan meningkatkan resiko terkena kanker kolorektal. Bentuk yang paling sering dari kelainan gen yang dapat menyebabkan kanker ini adalah Hereditary nonpolyposis colon cancer (HNPCC), yang disebabkan adanya perubahan pada gen HNPCC. Sekitar 3 dari 4 penderita cacat gen HNPCC akan terkena kanker kolorektal, dimana usia yang tersering saat terdiagnosis adalah diatas usia 44 tahun.
Penderita yang pernah terkena kanker kolorektal, dapat terserang kembali dengan penyakit yang sama untuk kedua kalinya.
Demikian pula wanita yang memiliki riwayat kanker indung telur, kanker rahim, kanker payudara memiliki resiko yang tinggi untuk terkena kanker ini.
Radang usus berupa colitis ulceratif atau penyakit Crohn yang menyebabkan inflamasi atau peradangan pada usus untuk jangka waktu lama, akan meningkatkan resiko terserang kanker kolorektal.
Diit makanan tinggi lemak (khususnya lemak hewan) dan rendah calcium, folat dan rendah serat, jarang makan sayuran dan buah-buahan , sering minum alkohol, akan meningkatkan resiko terkena kanker kolorektal
Demikian pula merokok, dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker ini.
Deteksi Dini
Deteksi dini berupa skrining untuk mengetahui kanker kolorektal sebelum timbul gejala dapat membantu dokter menemukan polyp dan kanker pada stadium dini. Bila polyp ditemukan dan segera diangkat, maka akan dapat mencegah terjadinya kanker kolorektal. Begitu juga pengobatan pada kanker kolorektal akan lebih efektif bila dilakukan pada stadium dini.
Untuk menemukan polyp atau kanker kolorektal dianjurkan melakukan deteksi dini atau skrining pada orang diatas usia 50 tahun , atau dibawah usia 50 tahun namun memiliki faktor resiko yang tinggi untuk terkena kanker kolorektal seperti yang sudah disebutkan diatas.
Test skrining yang diperlukan adalah fecal occult blood test (FOBT), sigmoidoscopy, colonoscopy, double-contrast barium enema, colok dubur.
Kanker maupun polyp dapat menyebabkan perdarahan dan FBOT dapat mendeteksi adanya darah pada tinja. FBOT ini adalah test untuk memeriksa tinja .
Bila test ini mendeteksi adanya darah harus dicari darimana sumber darah tersebut, apakah dari rektum, kolon atau bagian usus lainnya dengan pemeriksaan yang lain.. Penyakit wasir juga dapat menyebabkan adanya darah dalam tinja.
Sigmoidoscopy adalah suatu pemeriksaan dengan suatu alat berupa kabel seperti kabel kopling yang diujungnya ada alat petunjuk yang ada cahaya dan bisa diteropong. Alatnya disebut sigmoidoscope, pemeriksaannya disebut sigmoidoscopy.
Alat ini dimasukkan melalui lubang dubur ke dalam rektum sampai kolon sigmoid, sehingga dinding dalam rektum dan kolon sigmoid dapat dilihat.
Bila ditemukan adanya polyp, dapat sekalian diangkat. Bila ada masa tumor yang dicurigai kanker, dilakukan biopsi kemudian diperiksakan ke bagian patologi anatomi untuk menentukan ganas tidaknya dan jenis keganasannya.
Colonoscopy , sama seperti sigmoidoscopy , namun menggunakan kabel yang lebih panjang sehingga seluruh rektum dan usus besar dapat diteropong dan diperiksa. Alat yang digunakan adalah colonoscope.
Barium enema adalah pemeriksaan radiologi dengan sinar rontgen (sinar X ) pada kolon dan rektum. Penderita diberikan enema dengan larutan barium dan udara yang dipompakan ke dalam rektum. Kemudian difoto. Seluruh lapisan dinding dalam kolon dapat dilihat apakah normal atau ada kelainan.
Colok dubur adalah pemeriksaan yang sangat sederhana dan dapat dilakukan oleh semua dokter, yaitu dengan memasukkan jari yang sudah dilapisi sarung tangan dan zat lubrikasi ke dalam dubur kemudian memeriksa bagian dalam rektum. Merupakan pemeriksaan yang rutin dilakukan. Bila ada tumor di rektum akan teraba dan diketahui dengan pemeriksaan ini.
Bagi para pembaca yang ingin bertanya tentang masalah tumor dan kanker, dapat menghubunghi HP no 081321862268 atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Spesialis Rosye jaya Medika) di Jl. A.R Saleh (BLKI) A-5, telp. (0561)-583999.











.

1 komentar:

  1. Kanker Kolon ( Kanker Usus Besar ) adalah jenis kanker yang paling sering terjadi dan penyebab kematian no 2 di negara barat. Angka kejadian kanker kolon mulai meningkat pada umur 40 tahun dan puncaknya pada umur 60-75 tahun. Kanker ini lebih sering terjadi pada wanita.
    Hub 0857.4152.2288 Untuk Pemesanan
    Kanker kolon biasanya dimulai dengan pembengkakan seperti kancing pada permukaan lapisan usus atau pada polip. Kemudian kanker akan mulai memasuki dinding usus. Kelenjar getah bening di dekatnya juga bisa terkena. Karena darah dari dinding usus dibawa ke hati, kanker kolon biasanya menyebar (metastase) ke hati segera setelah menyebar ke kelenjar getah bening di dekatnya.

    Penyebab Kanker Kolon
    Seseorang dengan riwayat keluarga menderita kanker kolon, memiliki resiko tinggi mengidap kanker. Riwayat poliposis keturunan atau penyakit yang serupa juga meningkatkan resiko kanker kolon. Penderita kolitis ulserativa atau penyakit Crohn memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita kanker. Resikonya berhubungan dengan usia penderita pada saat kelainan ini timbul dan lamanya penderita mengalami kelainan ini.

    Makanan memegang perananan penting dalam resiko kanker kolon, tetapi bagaimana caranya, tidak diketahui. Di seluruh dunia, orang dengan resiko tertinggi adalah yang tinggal di perkotaan dan mengkonsumsi makanan khas orang-orang barat yang kaya. Makanan tersebut rendah serat dan tinggi protein hewan, lemak dan karbohidrat. Resiko agaknya menurun dengan diet tinggi kalsium, vitamin D dan sayuran seperti toge Brusel, kubis dan brokoli.

    Gejala Kanker Kolon
    Kanker Kolon tumbuh perlahan dan memakan waktu yang lama sebelum menyebabkan gejala. Gejalanya tergantung kepada jenis, lokasi dan penyebaran kanker.

    Usus besar sebelah kanan (kolon asendens) memiliki diameter yang besar dan dinding yang tipis. Karena isinya berupa cairan, kolon asendens tidak akan tersumbat sampai terjadinya stadium akhir kanker. Tumor pada kolon asendens bisa begitu membesar sehingga dapat dirasakan melalui dinding perut. Lemah karena anemia yang berat mungkin merupakan satu-satunya gejala.

    Usus besar sebelah kiri (kolon desendens) memiliki diameter yang lebih kecil dan dinding yang lebih tebal dan tinjanya agak padat.
    Kanker cenderung mengelilingi bagian kolon ini, menyebabkan sembelit dan buang air besar yang sering, secara bergantian. Karena kolon desendens lebih sempit dan dindingnya lebih tebal, penyumbatan terjadi lebih awal. Penderita mengalami nyeri kram perut atau nyeri perut yang hebat dan sembelit. Tinja bisa berdarah, tetapi lebih sering darahnya tersembunyi, dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium.
    4Life Transfer Factor Plus - Kanker Kerongkongan
    Terapi Kanker Kolon dengan 4Life Transfer Factor

    Cara terbaik & teraman melawan Kanker Kolon adalah dengan kembali ke tubuh kita sendiri. Tubuh kita memiliki sel-sel pembunuh kanker. Pada penderita kanker, sel-sel ini tidak berkerja secara optimal (aktifitas sel pembunuh kankernya rendah) sehingga sel-sel kanker bisa berkembang. 4Life Research mengeluarkan produk 4Life Transfer Factor Plus yang mampu meningkatkan aktifitas sel pembunuh kanker ini hingga 473% dan dalam suatu penelitian independen yang dilakukan oleh RAMS (Russian Academy Of Medical Science), sel kanker yang terliminasi mencapai 97%. 4Life Transfer Factor Plus aman tanpa efek samping sehingga bisa menjadi solusi terbaik bagi penderita kanker.
    http://sehatdengan4life.blogspot.com/2012/03/kanker-kolon.html

    BalasHapus