Sabtu, 07 Maret 2009

KELUAR DARAH DARI PUTING SUSU,APAKAH KANKER PAYUDARA ?

Tanya :
Dok, ibu saya, usia 45 tahun, menderita kenker payudara kiri. Sebenarnya enam bulan yang lalu , waktu benjolan di payudaranya masih kecil, masih seukuran telur puyuh, ibu sudah periksa ke dokter dan dilakukan pemeriksaan USG payudara dan biopsi tusuk jarum dan hasilnya dinyatakan positif kanker stadium II . Dianjurkan untuk dilakukan operasi kemudian dilanjutkan dengan kemoterapi.
Namun keluarga kurang setuju, dan mencoba periksa ke dokter bedah tumor di RS. Dharmais di Jakarta, dan dikatakan hal yang serupa seperti oleh dokter di Pontianak dan dianjurkan supaya dilakukan operasi dan kemoterapi di Pontianak saja.
Akhirnya kami bawa ibu berobat ke alternatif di Pemalang , diobati dengan air putih yang sudah didoakan, kemudian payudara yang ada kankernya diulas dengan kapas dan keluar darah. Kami berobat beberapa kali, dan ternyata tidak ada perubahan. Sekarang benjolan di payudara ibu makin besar dan makin keras seperti kulit jeruk , hampir seukuran bola tennis dan pada ketiak sebelah kirinya juga timbul benjolan sebesar telur puyuh. Apa yang harus kami lakukan dok ? Saya berniat berobat kembali ke dokter di Pontianak Apakah penyakit ibu masih dapat diobati dok ? Terimakasih atas jawabannya dan kami tunggu. ( Harun, Pontianak ).

Jawab :
Sudah berkali-kali saya menjelaskan bahwa hingga saat ini pengobatan kanker hanyalah dengan cara salah satu atau kombinasi pengobatan berupa : operasi, kemoterapi, radioterapi, terapi hormon . Penggunaan pengobatan tersebut tergantung pada jenis kanker payudara yang dihadapi, setelah dilihat hasil pemeriksaan patologi berupa jenis dan sifat kankernya, juga setelah diketahui stadium kankernya.
Walaupun sama-sama menderita kanker payudara, namun pengobatannya akan berbeda antara satu penderita dengan penderita lainnya tergantung dari hal tersebut.
Dalam bidang kedokteran yang diakui di seluruh dunia , dan sudah ada protokol pengobatan kanker payudara yang dapat dibuktikan secara ilmiah dan sudah melalui begitu banyak penelitioan ilmiah hingga saat ini tidak ada pengobatan alternatif untuk menyembuhkan kanker selain yang sudah disebutkan diatas.
Tujuan pengobatan pada kanker ada dua yaitu pengobatan kuratif dan paliatif. Pengobatan kuratif bertujuan untuk mencapai upaya kesembuhan dan dilakukan pada kanker stadium dini. Pengobatan paliatif, sudah tidak bertujuan untuk mencapai kesembuhan, tetapi bertujuan untk meningkatkan kualitas hidup penderita, dan dilakukan pada kanker stadium lanjut.
Banyak sekali pengobatan alternatif dalam tanda kutip yang terjadi dinegara kita, yang mengklaim dapat menyembuhkan kanker. Beragam cara pengobatannya, antara lain dengan ramuan atau obat-obat tradisional yang diambil dari bahan-bahan alami di negara kita seperti mahkota dewa, kunyit putih, buah merah dll. Ada juga dengan cara meminum air yang sudah didoakan. Ada juga yang dengan cara diusap, dipoles, ditusuk, ditekan. Bahkan ada juga yang penyakitnya katanya dipindahkan ke hewan. Selain itu saat ini banyak sekali obat-obat yang beredar dengan cara multi level marketing yang mengklaim dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit termasuk penyakit kanker.
Perlu diketahui, bahwa untuk dapat dinyatakan sebagai obat anti kanker dan dapat diakui di seluruh dunia oleh profesi kedokteran, obat yang digunakan harus melalui berbagai rangkaian penelitian ilmiah mulai dari penelitian pra klinik di laboratorium dan hewan percobaan , kemudian penelitian klinik sebanyak 4 fase pada manusia, yang memerlukan biaya yang sangat mahal, waktu penelitian yang sangat lama dan didukung para ahli di bidangnya. Penelitian juga dilakukan di multi senter terkenal di berbagai negara.
Hasil-hasil penelitian tersebut selalu dilaporkan secara berkala pada forum-forum ilmiah Internasional, journal-journal kedokteran dengan bukti-bukti secara ilmiah baik keberhasilan maupun kekurangannya..
Hanya obat-obat yang sudah melalui penelitian tersebut, dan hasilnya lebih baik dibandingkan obat standar yang sudah ada, dimana hasil pengobatannya terbukti lebih baik dengan efek samping yang minimal dan sudah direkomendasikan oleh badan yang berwenang, dan diakui para ahli di seluruh dunia , yang dapat digunakan untuk mengobati penderita kanker.
Masalahnya pada pengobatan yang dianggap masyarakat sebagai obat alternatif tersebut, apakah juga sudah melalui rangkaian penelitian seperti itu ? Bagaimana melakukan diagnosis, bagaimana mengukur kesembuhannya, dengan cara apa ? Apakah dapat dibuktikan secara ilmiah ? Kalau ada efek samping pengobatan atau komplikasinya siapa yang akan menangani ?
Bahwa benar obat-obat kanker juga berasal dari bahan alami. Sebagai contoh obat kanker golongan paclitaxel yang saat ini digunakan sebagai salah satu terapi standar untuk pengobatan kanker payudara, ternyata berasal dari salah satu jenis pohon cemara yang diambil dari daunnya. Di Amerika Serikat dan Korea Selatan, obat ini sudah dikembangkan dan hasilnya sudah lama dipakai di negara kita dan sudah digunakan juga di Pontianak untuk mengobati kanker payudara. Namun semuanya sudah dibuktikan secara ilmiah dan diakui di seluruh negara, termasuk di Indonesia.
Pada kasus penyakit ibu sdr, bila saat masih stadium dua dan mengikuti apa yang disarankan dokter, mungkin penyakitnya tidak akan berkembang seperti sekarang. Nasi sudah menjadi bubur, kalau melihat keterangan sdr, saat ini kanker payudara ibu sdr sudah meningkat menjadi stadium tiga, dengan catatan belum ada penyebaran ke tempat jauh seperti ke paru, liver, tulang atau lainnya.
Pengobatan untuk kasus seperti ini adalah dengan kombinasi kemoterapi dan operasi dan terapi hormon. Dilakukan kemoterapi neoajuvan yaitu kemoterapi sebanyak 4 kali sebelum dilakukan operasi. Setelah itu dilakukan evaluasi, bila respon kemoterapi baik, dilanjutkan dengan operasi pengangkatan payudara dan kelenjar di ketiak. Kemudian diperiksakan tumornya, untuk mengetahui sifat-sifat kankernya, dengan pemerikszaan histopatologi (PA) dan imunohistokimia.. Setelah itu pengobatan dilanjutkan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan yang didapat.
Segeralah periksa ke dokter untuk mendapatkan pengobatan yang terbaik. Prinsipnya, penyakit ibu masih dapat diobati.
Pengalaman dari kasus ini, adalah bagi para penderita kanker apapun jenis kankernya, sebaiknya menuruti anjuran dokter. Profesi kedokteran tidak anti terhadap pengobatan alternatif, tetapi harus dilihat apakah terapi alternatif itu membantu atau bahkan makin memperparah panyakitnya. Untuk penyakit kanker, ibaratnya berlomba dengan waktu. Bila ditangani tidak dengan tepat dan waktu pengobatan menjadi terlambat , maka kanker akan makin membesar dan menyebar, yang justru menambah parah penyakitnya. Bagi para pengobat alternatif, hendaknya juga jangan terlalu memberikan harapan berlebihan bahwa pengobatannya dapat mengobati dan menyembuhkan kanker bila memang belum ada bukti ilmiah yang mendukung hal tersebut. Bila terjadi kasus-kasus seperti diatas, siapa yang harus bertanggung jawab ?
Prinsip pengobatan kanker adalah terapi atau pengobatan pertama haruslah yang terbaik, bila tidak, maka pengobatan selanjutnya tidak akan memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan pemberian terapi pertama yang terbaik.
Semoga pertanyaannya sudah dapat terjawab. Bila masih kurang jelas, atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang tumor dan kanker, dapat menghubungi HP 081321862268, atau ke Pontianak Post atau ke Klinik Tumor dan Kanker Pontianak (Klinik Rosye Jaya Medika) di Jl. A.R. Saleh (BLKI) No A-5. telp. 0561-583999.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar